Teks Editorial beserta contohnya

Teks Editorial



Pengertian Teks Editorial 

Teks editorial adalah teks yang berisi pendapat pribadi seseorang terhadap suatu isu/masalah aktual. Isu tersebut meliputi masalah politik, sosial, atau pun masalah ekonomi yang memiliki hubungan secara signifikan dengan politik.

Struktur Teks Editorial
  • Pernyataan pendapat (tesis), berisi sudut pandang penulis terhadap permasalahan yang diangkat. Berupa pernyataan atau teori yang akan diperkuat oleh argumen.
  • Argumentasi, bentuk alasan atau bukti yang digunakan untuk memperkuat pernyataan tesis. Bisa berupa pernyataan umum, data hasil penelitan, pernyataan para ahli atau fakta-fakta yang dapat dipercaya.
  • Penegasan Ulang Pendapat /Reiterationberisi penguatan kembali atas pendapat yang telah ditunjang oleh fakta-fakta dalam bagian argumentasi.

Langkah Langkah Membuat Teks Editorial

  • Memilih topik terkini dan terhangat yang menarik pembaca. Topik yang menarik akan diminati para pembaca karena pembaca selalu ingin topik yang terbaru.
  • Mengumpulkan data untuk mendukung pendapat. Data berupa fakta-fakta yang berhubungan dengan topik akan sangat mendukung pendapat yang sudah dibuat.
  • Menyesuaikan topik dengan pembaca. Penulis teks editorial harus memperhatikan bahasa, fakta-fakta dan pendapat yang dikemukakan apakah sudah tepat atau belum bagi pembaca..
  • Menyunting teks editorial. Periksa kembali teks yang sudah dibuat agar kaidah kebahasaan, tanda baca, dan kalimatnya sudah padu dan siap untuk dibaca para pembaca.

Contoh Teks Editorial : 


Kopi Indonesia

Ini cerita tentang kopi Indonesia yang bercitarasa tinggi sudah lama dikenal di berbagai belahan dunia. Wangi aroma kopi Nusantara ini membuat orang yang menciumnya serasa di alam lain.

Kopi Indonesia telah mendapat tempat tersendiri di hati para penikmat kopi di seluruh dunia. Setidaknya ada dua hal yang membuat kopi Indonesia diminati di pasar global. Pertama adalah cita rasa, kedua adalah variasi atau jenisnya yang beragam.

Peluang kopi Indonesia untuk lebih banyak diekspor ke mancanegara semakin terbuka lebar menyusul keberhasilan sejumlah produsen kopi Tanah Air menyabet penghargaan AVPA Gourment di Paris–Prancis, pada 2 Oktober lalu.

AVPA atau Agency for the Valorization of the Agricultural Products adalah organisasi di Prancis yang memiliki kepedulian membantu produsen produk pertanian dari seluruh dunia, utamanya untuk memasarkan produk mereka di Eropa.

Sedikitnya 170 produsen kopi dari berbagai negara mengikuti kompetisi AVPA. Kompetitor Indonesia antara lain datang dari Brasil, Kamerun, Kolombia, Kongo, Amerika Serikat (Hawaii), Gabon, El Salvador, Honduras, Kenya, Laos, Meksiko, Peru, Puerto Rico, Tanzania, Togo, dan lain-lain.

Annelis Putri, Country Manager AVPA untuk Indonesia dalam keterangan persnya menyebut Presiden Juri AVPA André Rocher mengaku terkejut dengan kualitas kopi Indonesia yang sangat bervariasi. keunggulan lain adalah kualitas roasting yang baik.

Dengan keunggulan tersebut, 23 kopi Indonesia dari 11 produsen sukses memenangkan penghargaan. Dalam kompetisi tersebut, Indonesia adalah negara kedua yang mendapatkan penghargaan terbanyak, setelah Kolombia (25 penghargaan untuk 14 produsen).

Namun, di balik apresiasi internasional atas kopi Indonesia terbersit kekhawatiran akan masa depan kopi di Tanah Air. Bukan soal cita rasa yang bakal kalah bersaing, melainkan lebih pada soal rendahnya produksi dan masih sempitnya lahan tanaman kopi.

Memang saat ini Indonesia masih menjadi salah satu negara eksportir kopi terbesar di dunia dengan produksi mencapai 630.000 ton dengan tujuan utama Amerika Serikat, adalah Malaysia, Jerman, Italia, Rusia dan Jepang. Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) mencatat, nilai ekspor kopi pun cukup fantastis. Per tahunnya, total ekspor sebesar USD 1,2 miliar atau sekitar Rp16,8 triliun

Meskipun Indonesia dikenal negara produsen utama kopi dunia dengan produk yang beragam dan kualitas yang tidak lagi diragukan, namun saat ini ada ketimpangan antara pertumbuhan konsumsi kopi nasional dengan tingkat produksi kopi. Konsumsi kopi dalam negeri dalam lima tahun terakhir naik 8,8% per tahun, namun pertumbuhan produksi justru jauh tertinggal, yakni hanya tumbuh 0,3% per tahun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam sebuah Gathering dan Roundtable Discussion di Jakarta pada Agustus 2018 lalu mengatakan perlu langkah strategis untuk mengatasi masalah ini.

Salah satu kunci untuk menggenjot pertumbuhan produksi kopi adalah dengan memperluas lahan tanaman kopi. Ini penting jadi perhatian karena ketika konsumsi kopi terus naik sedangkan lahan cenderung stagnan maka pasti terjadi ketidakseimbangan antara suplai dengan permintaan. Untuk itu, luas lahan garapan keluarga petani Indonesia harus ditingkatkan.
Darmin menyebut kebun kopi yang dikelola keluarga petani di Indonesia saat ini baru seluas 0,71 hektare per keluarga untuk jenis robusta, dan 0,6 hektare untuk jenis arabika. Ini masih jauh dari ideal yakni 2,7 hektare setiap keluarga petani.

Selain soal lahan, masalah lain adalah rendahnya produktivitas. Petani saat ini baru bisa memproduksi kopi sekitar 0,53 ton per hektare dari total potensi sebesar 2 ton per hektare (robusta) dan 0,55 ton per hektare dari total potensi 1,5 ton per hektare (arabika). Implikasi dari dua masalah riil yang dihadapi tersebut adalah petani tidak punya cukup modal untuk memperluas kebun.

Dua masalah ini harus bisa dicarikan solusinya. Sebab jika tidak, dalam jangka panjang, bahkan hanya beberapa tahun ke depan, bukan tidak mungkin negara yang kaya dengan aneka jenis kopi ini akan jadi pengimpor. Tentu kondisi ini tidak diinginkan kerena negeri ini memiliki lahan luas nan subur untuk ditanami kopi dengan segala keanekaragaman jenis kopi yang tidak ternilai.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tahapan membuat Cerpen ( Cerita Pendek ) dan contohnya

Surat Lamaran Pekerjaan