MY NOVEL


Badai Yang Tak Reda

CHAPTER 1 PERTEMUAN

Brukk…, buku yang kubawa jatuh dan berserakan di lantai. Ini adalah kesalahan ku, mungkin jika aku tak tergesa gesa kejadian ini tak akan terjadi. “Maaf..” kataku. “ Kau punya mata tidak, jalan itu yang benar, pake nabrak segala lagi” sahut dia, laki laki dengan tampang sok keren, “ Tapi kau lumayan juga, aku tak pernah melihatmu, apakah kau murid baru”. “ Ya “ sahutku dengan nada bergetar. “Oh boleh lah.. apa kau mau diantar olehku nanti pulang sekolah” katanya. “Maaf aku bias pulang sendiri” sambil membereskan buku ku yang berserakan. “ Hah.. kau tau ia siapa” kata teman laki laki itu. “Jawab!! atau kau ku…” hendak menarikku. Plackk.. tangan temannya yang hendak menyentuh ku tiba tiba di tangkis oleh seseorang.” Hei apa kau punya harga diri, dia itu perempuan, bersikaplah lebih jantan” kata laki laki yang menolongku itu. “ Hei kau tahu kami ini siapa”. “Ohhh mungkin kah kalian itu para jomblo yang saking jomblonya sampai memaksa wanita ini supaya jadi milik kalian, sungguh mengenaskan laki laki seperti kalian di sekolah ini” Kata laki laki yang menolongku, lantas aku sedikit tertawa mendengar ucapannya itu. “ Apa!! kau berani beraninya, awas kau aaaa…” Sambil memukul ke arah laki laki itu. Buppp wajahnya terhajar oleh satu anggota kelompok yang menggangguku itu. Tiba tiba ada seorang guru yang menghampiri kita, “Hei kalian…”, lantas hal tersebut membuat kelompok tersebut kabur.
“Apa kau tidak apa apa” sahut guru tersebut. “Aku tidak apa apa pak, tapi tolong dia, dia habis dihajar oleh mereka” kataku sambil terus membereskan bukuku. “ Ahh tidak apa apa pak, ini hanya luka kecil, aku kan membersihkannya sebelum masuk kelas. “ Oh ya kalian siswa baru yaa , ya sudah , pada jam istirahat kalian pergi ke ruang BK ya!  Sekarang masuk kelas dulu ! “. Guru tersebut pun pergi dan meninggalkan kami. “Sial..baru masuk sudah masuk BK” katanya laki laki itu dengan sura sangat kecil sambil membantuku membereskan buku yang berserakan ini.”Maaf” Karena ku kau sampai begini. “ Ohh.. tak apa sudah seharusnya aku memberi pertolongan pada orang yang terkena masalah”. Katanya. “ Terima kasih telah menolongku dan membantuku. “ Tak masalah.. lain kali hati hati kalau di lorong sepi begini”. “ Apakah kau murid baru”, Kataku. “ Ya aku murid baru, kelasku kelas X.A, “ Wah kelas kita sepertinya sama , apa kau mau bareng masuk ke kelas” Kataku. “ Tidak, aku ingin membersikan luka ini terlebih dahulu, dan jika kau bersamaku mungkin awal masuk SMA mu ini akan menjadi cerita bruruk, ya sudah kau duluan saja “ Katanya dengan lembut dan berenergi. Akhirnya aku pergi menuju kelas, aku berpikir apakah ini sebuah takdir atau murni kesalahan ku, sungguh ia orang yang baik, tapi aku tak mengerti apa yang dia katakan tentang “awal yang buruk di SMA”.
Terlihat sebuah bangku kosong paling belakang di dekat seorang perempuan yang tak ku kenal, apakah itu adalah tempat dudukku untuk satu tahun ke depan, “ Hai apakah aku boleh duduk di sebelahmu”. “Tentu tak masalah” kata perempuan itu. “Namaku Riza, Aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan satu adik laki laki, rumahku tepat berada di sebelah Apartemen Jaya Home” perempuan itu memperkenalkan diri. Saat aku hendak memperkenalkan diri aku lupa terhadap sesuatu yaitu siapa laki laki yang tadi menyelamatkanku, apakah ada kesempatanku bertemu dia kembali. Sial ottaku membayangkan hal hal yang aneh begini, sampai aku lupa memperkenalkan diriku.”Namaku Lucy, aku tinggal bersama ayahku, kebetulan sekali aku tinggal di Apartemen Jaya Home, jadi tempat tinggal kita saling berdekatan” Kataku pada Riza.”Oh apakah ini sebuah takdir atau kebetulan ya.. mungkin kita akan menjadi teman seperjuangan di SMA ini”. Kata Riza.
Tiba tiba guru masuk ke kelas kami, lantas hal tersebut membuat keadaan kelas yang tadinya ramai menjadi hening seketika.”Khmmm..” suara berat muncul dari mulut guru laki laki itu, lantas membuat suasana kelas tegang. “Selamat datang murid murid yang bapak banggakan, perkenalkan nama bapa Kasman, pangging aja pa kas, bapa disini yang akan menjadi wali kelas kalian untuk satu tahun kedepan, Oke bapa absen dulu yaa.. angkat tangan kalian kalau kesebut namanya”. “Ok pakkk kass..” Kata kami sekelas. Satu per satu nama murid di kelas ku disebut, sekarang giliranku.”Lucy..”, “Ya pak hadir”, “Ouh namamu seperti nama orang barat, apa Ayah atau Ibumu adalah orang luar negeri ? “ . “ Ya pak, Ayah saya dari Jerman”. “ Oh begitu rupanya”. Lantas hal tersebut membuat seluruh orang yang ada di kelas melihat kearah ku. “Sudah sudah, Selanjutnya Sams Abdul Qomar”. Tak ada seorang pun yang angkat tangan, aku mengira pasti dia adalah murid nakal. “ Aduh anak itu, kelakuannya tidak berubah semenjak SMP” kata Riza dengan suara kecil. Sudah kuduga dia adalah salah satu anak nakal. Tiba tiba datang anak laki laki masuk ke dalam kelas tanpa dalam dan langsung duduk.”Kamu tidak sopan, kesini kamu bediri menghaadap temanmu”. Aku tidak terlalu jelas siapa dia, tapi setelah ia berdiri dan melihat kearah kami, ternyata ia adalah laki laki yang menolongku tadi. “ Lihat kau baru masuk sekolah pertama saja pipi kamu sudah biru, apa yang kamu lakukan hingga telat begini, kau tahu kesalahanmu kan sudah telat tidak sopan masuk ke kelas, mau jadi apa kamu” Kata pak kas dengan nada tinggi. “ Tapi pak” “Sudah kamu sekarang keluar” potong pak kas. Dia keluar dengan sikap acuh. “ Hei Riza bukannya dia baik, apakah itu sikap aslinya”.”Sebenarnya dia adalah anak yang rajin dan sangat baik pada orang disekitarnya”. Kata Riza. “Terus..”, “ Ya aku salah satu teman dekatnya, dia sangat popular, tapi semenjak ayahnya meninggalkan dia besama Ibunya, tak tau mengapa sikapnya berubah sedikit demi sedikit, mungkin dia frustasi akan kehidupannya dan sekarang dia yang dulu sudah tidak ada lagi”, kata riza panjang lebar.
Karna hal tersebut aku menjadi penasaran tentang dirinya, aku juga kehilangan Ibuku pada saat aku berumur 14 tahun, apakah benar ia frustasi akan hidupnya, karena menurutku jika dilihat dari matanya dia lebih tegar dariku, jadi menurutku ada yang janggal, apakah dia benar benar sudah berubah, banyak sekali pertanyaanku tentang dirinya, karna pada saat dia menolongku kurasa ada hal yang janggal, dia tak sepenuhnya berubah karna pada saat menolongku ia tidak seperti dirinya yang dulu yang diceritakan oleh Riza. Hal itu membuatku penasaran, tentu aku teringat tentang mendiang ibu kandungku, dia berkata padaku agar membantu seseorang yang membutuhkan dan tentang balas budi. Laki laki itu sudah menolongku dan aku disni seharusnya menolongnya juga. Tentu itu adalah keputusanku bukan karna sepenuhnya wasiat mendiang ibuku,ini murni keinginanku, ada hal mengganjal dihatiku, jadi sudah ku putusakan tuk menolongnya. Tapi Ayahku bilang jangan sampai memasuki hidup seseorang yang tak dikenal lebih dalam karena itu adalah sebuah larangan, dalam hal ini Ayahku berbicara tentang Privasi. Jadi aku harus hati hati dalam hal ini.



























CHAPTER 2 MASALAH

Kringggg… bel pulang berbunyi, saatnya kami semua pulang ke rumah masing masing, tapi tidak dengan denganku.”Lucy apa kau mau pulang bareng?” “Tak masalah, tapi ada hal yang membuatku tidak bisa pulang sekarang” kataku, “Ouh ouh aku mengerti, apa ada seseorang yang kau suka pada pandangan pertama di SMA ini..” Kata Riza dengan muka menyebalkannya. “ Apa ? tidak tidak mana mungkin aku melakukan hal tersebut” “Ouh aku tahu jika dari pernyataanmu kau akan buat dia jatuh cinta padamu kan, hahaha mengaku saja” kata Riza. “ Bukan..” Kataku sembari terpotong untuk melanjutkan kata selanjutnya “ Ayo Riza “ “ Hei kau mau mengajakku kemana “ Kata Riza. Sebenarnya aku ingin melakukkannya sendiri tapi karna Riza disini siapa tahu dia tahu tentang dirinya, ya yang ku masgsud adalah laki laki yang tadi pagi menolongku, Riza pernah bersama dirinya disekolah dulu jadi mungkin dia tahu seseatu. Kami pun membututi laki laki itu “ Hei apakah dia orangnya, apa aku salah liat, dia kann..” “ Ya dia orangnya” potongku. Ternyata perkataanku itu membuat Riza kaget karena dia mengira dia orangnya itu merujuk pada orang yang kucinta pada pandang pertama, kesalah pahaman itu karna aku tadi belum selesai meluruskan apa yang dia kira, mungkin terlambat tuk menjelaskannya , karena jujur aku tak ada rasa suka padanya jadi mengapa aku harus menjelaskannya.
“ Apakah itu rumahnya?” tanyaku, “Kurasa dia tidak mengontak, dia punya rumah yang cukup besar, apa rumahnya dijual untuk biaya sekolahnya?” Kata Riza penuh pertanyaan. “Mengapa kita tidak tanya saja padanya” “ Jangan !! apa kau sudah gila, dia pasti tersinggung, tapi aku juga penasaran apa yang sudah terjadi selama 2 tahun ini tentang dia”. “Lihat dia keluar “ “ Ayo kita ikuti” Lantas Riza pun penasaran tentang dirinya.
Ternyata setelah lama kami buntuti dia belok ke salah satu restaurant, “Hei apa yang ia lakukan, apa ia bekerja disana atau sekedar membeli makanan” kataku “ Aku juga tidak tahu” “ kalau begitu ayo kita masuk” Kataku “ Tunggu untuk menghilangkan kecurigaan lebih baik kita gunakan masker ini dan hodie kita masing masing”, Kurasa apa yang kulakukan dengan Riza seperti detektif sungguhan.
Seperti yang tidak kuharapkan ternyata hal tersebut malah aneh pada sebuah pelanggan Restaurant, orang orang memandangi kami mengangap kami aneh, sudah tak apa apa apa yang terpenting identitas kami aman dalam hatiku berbicara. “ Maaf mbak mau pesan apa? Suara yang sangat ramah untuk seorang pelayan, “ Ya kami pesan..” jawabanku terpotong, tak kusangka dia adalah Sams laki laki yang kubuntuti itu. “Yang ini saja dua porsi ditambah dua air putih yaa..” jawab Riza cepat, “ Ya dua porsi paket ayam hemat ditambah dua air putih akan segera datang, tunggu ya mbak..” Kata pelayan itu yang tak lain Sams “Ya tolong ya” “Ok”.
“Maaf Riza aku tak bisa bicara apa apa tadi” Kataku “ Ya aku juga kaget, bukan kager dia bekerja disini tapi kata kata yang ia keluarkan mirip sekali dengan dia yang dulu” Kata Riza panjang.
“Maaf menunggu ini pesanannya” Sambil meletakan pada meja kami “Hei jangan kasih tahu aku bekerja disini” “ Apa kau..” Kataku “ Silakan nikmati hidangan kami “ Potong dia.
Aku kira penyamaran kita sudah perfect tapi dia menyadari itu kami,” Kurasa setelah makan kita langsung pulang dan bahas ini via Whats app aja” Kata Riza “ Oke aku setuju denganmu, ini nomerku save yaa..” “ Oke tak masalah “ . Setelah makan akhirnya kami pulang ke rumah masing masing, jalan pulang kami sama karna rumah kami saling berdekatan.
Lucy        : Hai ini aku Lucy ini benar dengan Riza
Riza         : Haii Lucy, ya ini aku
Lucy        : Riza apa kau merasa bingung apa yang terjadi tadi?
Riza         : Ya, ada dua masalah disini, sikap ia yang dulu dan mengapa ia melarang kita   berbicara tentang pekerjaannya.
Lucy        : Mungkin dia malu atau bagaimana, lebih baik nanti besok kita selidiki lagi
Riza         : Oke kalau begitu

Kringngngng bunyi alarm hpku, hari sudah pagi saatnya aku berangkat sekolah, aku mandi dan mulai mulai memakai pakaian seragamku, “ Nak ayo Ayah mau berangkat kerja “ Ayahku memanggil, “Duluan saja ayah aku bersama temanku saja” “Oh ya sudah ayah berangkat dulu” “ Oke yah hati hati”.
Setelah keluar apartemen ternyata ada seorang perempuan yang menunggu di depan apartemen, dia Riza “Ayo kita berangkat”.
Pada saat di perjalanan aku masih penasaran dengan si Sams, karena arah sekolah kami searah atau melewati rumah Sams “ Riz kita tunggu dulu disini” Kataku. Setelah beberapa menit Sams akhirnya keluar dari kontrakannya, tak kusangka di belakang Sams berjalan seorang perempuan cantik pasti seumuran dengan mendiang ibuku kalau ia masih ada. “ Apa kau masih penasaran Lucy, sepertinya ini jangan dilakukan aku tak tahan melihat kenyataan sebenarnya, dan toh dia seperti melarang kita tuk lebih mengetahui diirnya” Kata Riza.
Aku hanya diam saja mendengar apa yang disampaikan Riza dan terus membuntuti Sams. “Tunggu dia dihadang” Kata Riza lantas itu membuatku cepat cepat cari tempat sembunyi “ Tunggu jangan sembunyi kita tak tahu apa yang ia katakan, lebih baik kita pura pura melewatinya dan mendengar sedikit percakapannya “ Kata Riza.
Sams dihadang oleh orang berjas dan anaknya yang seumuran dengan kita, aku dan Riza tetap berjaan biasa melewati mereka “ Hei mana uangnya, kamu mau bebas ?” kata tersebut terdengar oleh kami dan aku tak mengerti magsud dari pembicaraan mereka, tapi ketika aku melihat Riza ia bengong sembari melotot kecil, mungkin ia tahu sesuatu, tapi pada saat perjalannan ia tak bicara sedikitpun, jadi apa magsud dari kejadian barusan tersebut.

          

CHAPTER 3 PECAH
            Aku tak tahu apa yang Riza pikirkan dari tadi semenjak mendengar percakapan mereka tadi. “ Riza hei Riza hei..” “ Ya apa apa” kata Riza, “Itu kau dipanggil guru” Kataku.
Entah mengapa Riza masih banyak pikiran apa dia sampai begitunya memikirkan hal tersebut, itu membuatku semakin penasaran.
            Jam istirahat telah berbunyi, “Hei Riza apakah mau ke kantin bareng” “Tidak kau saja aku ingin sendirian disini”, “Sudah pokoknya aku maksa kamu ayo kita kekantin” sambil menarik dirinya menuju kantin.
            “Hei apa yang selama ini kau pikirkan coba ceritakan padaku aku adalah temanmu, bisa saja aku sedikit membantu” Kataku sambil menenangkan dirinya, “Jadi begini, kmmm” “Tunggu lebih baik kau minum dulu supaya lebih tenang, kau mau pesan apa nanti aku pesankan” kataku, “Sama kan saja denganmu Lucy”.
            “Bu pesan dua nasi goreng dan dua teh manis hangatnya” kataku pada ibu kantin. “Baik de, tunggu sebentar” setelah beberapa menit menunggu “Ini dek mau bibi bawakan?” “Ga usah bi makasih biar sama aku saja, ini bu uangnya” “Makasih dek”.
            “Nih kamu makan dulu biar kamu tenang” dan kami makan, selang beberapa menit aku habis duluan disusul Riza. “Makasih ya Lucy kau memang teman baikku” “Ya tak apa sesama teman seharusnya saling membantu kan” “Trims ya cy kau memang baik pada semua orang sama dengan Sams yang dulu”.
            “Jadi begini cy, aku dan Sams dulunya kami berpacaran,” “Apa” aku memotong pernyataan Riza, “Ya kami dulunya saling mencintai, dia anak yang baik, dia anak yang pintar, tapi aku baru sadar mengapa aku putus darinya, alasan aku putus mungkin karena sikap dia berubah total 360 derajat yang dulunya dia baik menjadi acuh, dia menjadi penjahat perempuan, dia tidak sopan ke guru, masih banyak rumor tentang dirinya, tapi aku sadar itu hanya rumor tapi aku percaya pada saat itu, harusnya disaat dia begitu aku melindunginya, tapi aku malah berpaling darinya” Kata Riza panjang lebar. “Oh aku mengerti, tapi apa hubungannya dengan kejadian tadi pagi” Tanyaku. “ Kau tahu laki laki yang tadi bersama orang berjas tadi yang menghadang Sams, dia adalah ayah dan anak, dan laki laki itu adalah pacarku sekarang, aku berpacaran dengannya setelah aku putus dengan Sams”.
            Disitu ottaku seperti ada sentuhan fakta, jika aku mendengar cerita Riza, disitu terselip sebuah misteri yang besar. Mungkin ini ada hubungannya antara Ayahnya Sams, Riza, dan laki laki yang tadi menghadang Sams.
            Mungkin lebih baik aku tanya lansung pada ayah Sams langsung, tapi aku tak tahu ia dimana. “Hei apa kau tahu keberadaan ayah Sams” kataku “ Soal itu hmmm, baiklah ayah Sams sekarang jadi gelandangan di jalanan” kata Riza dengan penuh penyesalan. “ Ayo kita temui dia ada hal yang harus ku tanyakan” “Baiklah kalau kau memaksa”
            Tiba waktu pulang, kami berencana mencari ayah Sams di pinggir jalan. Setelah sekian lama mencari akhirnya aku menemukannya.
            “Itu dia ayahnya Sams” kata Riza, aku tak pecaya apa yang kulihat dia adalah seorang pria paruh bayah dengan baju kotor yang sedang memarkirkan mobil”. “Maaf paman ada yang ingin bertemu denganmu” Kata Riza, “Oh nak Riza siapa ?”, “Ini dia Lucy, ada hal yang perlu ditanyakan olehnya” kata Riza.
            “Halo paman namaku Lucy, ada yang harus kutanyakan pada paman mengenai Sams” kataku, “Oh Sams, ada apa ya?”, “Maaf kalau saya lancang ,jadi apa hubungan paman dengan Sams dan Ibunnya sampai dia sekarang jadi begini”. “Magsud dek Lucy apa ?” “Jadi kehidupan Sams sekarang jadi susah, sampai dia harus bekerja di umurnya sekarang”. “Maaf dek Lucy kamu tak seharusnya tahu tentang keluarga kami” kata ayahnya sams. “Aku perlu tahu karna..” “ Maaf ya dek Lucy paman tidak bisa menceritkannya “ Potong ayahnya sams, “Tapi aku harus tahu karena… karena.. aku pacarnya Sams”


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tahapan membuat Cerpen ( Cerita Pendek ) dan contohnya

Teks Editorial beserta contohnya

Surat Lamaran Pekerjaan